Menu Click to open Menus
Home » Lain-lain » Perlukah Melakukan Pemblokir Media Sosial atas Aksi Demo di Bawaslu 22 Mei 2019 ?

Perlukah Melakukan Pemblokir Media Sosial atas Aksi Demo di Bawaslu 22 Mei 2019 ?

(26 Views) May 23, 2019 9:43 am | Published by | No comment

Boleh dong saya sebagai warga masyarakat berpendapat mengenai hal tersebut. Kan Indonesia negara demokrasi katanya.

Menurut saya pribadi sebenarnya gak perlu pake blokir-blokiran segala. Silahkan saja coba pertimbangkan hal-hal berikut :

  1. Massa peserta demo 22 Mei yang resmi telah membubarkan diri selesai bukber & sholat tarawih bersama. Yang kemudian rusuh adalah katanya pendemo bayaran. Tidak ada eskalasi massa sama sekali. Tidak ada himbauan untuk melakukan demo dari pihak 02. Tidak ada mobilisasi massa dari daerah.
    Trus mengapa sampai harus blokir medsos dengan alasan banyak hoax ?
    Anggaplah banyak hoax, tapi intinya tidak ada pergerakan massiv dari massa ke satu lokasi bukan ? Jadi, dimana letak daruratnya ya ???
    Massa bayaran juga pasti terbatas dan mudah ketahuan dalangnya. Nah, tinggal cari tahu massa bayarannya dari mana saja, biar segera bisa diantisipasi pergerakannya.
  2. Para pembuat & penyebar hoax pasti lebih mudah diburu daripada para pelaku teror bom. Jadi, apa susahnya sih kalau tangkap satu per satu penyebar hoax tersebut. Dan sejauh ini memang sebagian diantara mereka telah tertangkap, bukan ?
    Lalu, hoax yang mana lagi yang masih ditakutkan sehingga medsos harus diblokir ?
  3. Kerugian yang ditimbulkan akibat pemblokiran medsos ini sudah jelas, terlebih saat ini yang merupakan puncak-puncaknya transaksi online mengingat umat muslim Indonesia akan merayakan Idul Fitri. Sehingga Mulai dari pebisnis recehan hingga milyaran merasakan akibatnya.
    Dan bukan cuma kegiatan bisnis, dunia medis, pendidikan, atau mungkin sektor lainpun boleh jadi terkena pula imbasnya.
    Harusnya pihak berwenang tidak semena-mena mengeluarkan aturan ini yang sesungguhnya belum urgent sama sekali.
    Harusnya pikirkan dahulu langkah terbaiknya jika memang pemblokiran ini terpaksa harus dilakukan, entah dengan model keyword, analisa grafik, atau model lain. Saya yakin banyak profesional yang bisa melakukannya. Jangan samakan kasus yang terjadi saat ini dengan kasus 30 tahun silam.
  4. Dengan pemblokiran ini masyarakat jadi merasa ada semacam ketakutan, seakan-akan negeri ini sedang dalam ancaman besar tapi tidak jelas, apa & siapa yang menjadi ancamannya.
    Hoax yang ingin ditangkal pemerintahpun tidak dibeberkan dengan jelas, hoax yang mana yang dianggap mengancam keamanan negara. Harusnya ada rilis resmi dari pihak berwenang yang mengumpulkan semua informasi yang dianggap hoax sehingga tidak akan ada lagi masyarakat yang mau menyebarkannya.
    Pernahkah Anda mendapat rilis resmi dari pemerintah terkait info mana sajakah yang dikategorikan hoax ?
    Bagaimanapun, tidak semua hoax bisa ditangkal. Namun yang penting adalah hoax-hoax yang mengancam keamanan negara tentu bisa dihindari.
    Ataukah yang dimaksud hoax itu adalah segala sesutu yang tidak sesuai dengan kehendak pemerintah ? Nah jika seperti ini tentu lain lagi ceritanya. Bukan untuk menangkal hoax berarti, melainkan ingin membungkam masyarakat dan mematikan demokrasi ! Semoga bukan ini yang dimaksud !
  5. Dengan pemblokiran yang tidak wajar ini, maka wajar jika muncul banyak pertanyaan dan praduga di tengah-tengah masyarakat :
    Apa yang sebenarnya sedang terjadi ?
    Jangan-jangan ada yang sedang ditutup-tutupi takut terbongkar?
    Over acting, berlebihan, cari muka biar terus mendapat jabatan, dll….

Itulah pendapat awam saya sebagai warga masyarakat biasa terkait pemblokiran media sosial ini. Semoga saja tidak dianggap hoax oleh pihak berwenang. Terima kasih.

Bagikan

No comment for Perlukah Melakukan Pemblokir Media Sosial atas Aksi Demo di Bawaslu 22 Mei 2019 ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *